Aku nggak tahu sejak kapan kota ini berubah jadi terasa asing.

Padahal dulu aku hafal semuanya.

Jalan tikus buat menghindari macet. Warung makan yang buka sampai tengah malam. Bangku taman yang paling enak buat duduk sendirian sambil denger lagu. Bahkan suara lampu merah di perempatan dekat rumah pun rasanya akrab.

Tapi sekarang semuanya terasa berbeda.

Gedung-gedung tumbuh terlalu cepat. Tempat lama satu-satu hilang. Coffee shop baru muncul di tempat yang dulu pernah jadi warnet tempat main games. Orang-orang berjalan lebih buru-buru. Dan entah kenapa, aku merasa jadi orang asing di kota yang dulu pernah terasa seperti rumah.

Malam itu aku sengaja muter lebih lama naik motor.

Nggak ada tujuan sebenarnya.

Aku cuma belum siap pulang.

Lampu kota lewat satu-satu di kaca helm. Jalanan masih ramai meski jam sudah hampir tengah malam. Di trotoar, beberapa orang tertawa bersama temannya. Di lampu merah, seorang bapak penjual tisu masih berdiri sambil menahan kantuk.

Semua hidup berjalan seperti biasa.

Cuma aku yang rasanya tertinggal di suatu tempat.

Kadang yang berubah bukan kotanya.

Tapi versi diri kita yang pernah hidup di dalamnya.

Aku berhenti sebentar di depan sebuah ruko kosong yang dulu pernah jadi tempat favoritku waktu SMP. Tempat aku dan teman-teman duduk sampai malam, ngobrol soal mimpi yang sekarang bahkan sudah jarang kami bahas lagi.

Lucu ya.

Dulu kita nggak sabar ingin cepat dewasa.

Sekarang malah kangen jadi manusia yang belum terlalu banyak kehilangan.

Angin malam terasa dingin.

Aku melihat pantulan diri sendiri di kaca toko yang gelap. Untuk beberapa detik, aku benar-benar merasa seperti orang lewat yang kebetulan berhenti sebentar di kota ini.

Dan malam itu aku sadar:

mungkin rumah bukan lagi tentang tempat.

Tapi tentang versi diri kita yang sudah tidak bisa kembali lagi.